Senin, 02 Juli 2012

NOVEL DAMARWULAN SERI 1



Kisah Berdirinya Kerajaan Mojopait

Pada zaman kerajaan Mojopait berkuasa dengan megahnya memancarkan keagungan dan luasnya kekuasaannya membuat kerajaan-kerajaan lain dimuka bumi segan dan memuliakannya sebagai kerajaan yang dipertuan agung kerajaan lain di dunia.
Pada saat itu Mahapatih Gajahmada memasuki Tlatah Madakaripura setelah menanggalkan baju kebesarannya beserta seluruh kekuasaannya sebagai seorang Mahapatih I Hino di Mojopait, memakai baju laksana seorang resi. Beliau berjalan kaki menuju pesanggrahannya, dengan segala kepenatan yang ada dalam benaknya setelah beberapa peristiwa besar yang dialaminya. Dalam keremangan malam beliau melangkah menyusuri jalan yang naik turun, terdengar suara jengkerik dan lolongan srigala di kanan dan kiri jalan yang seolah melengkapi kepenatan sang mantan mahapatih tertinggi di Nuswantara...
Tak lama kemudian terlihat sebuah pelita dikejauhan," Hm apa itu didepan sana ada pelita dinyalakan ditengah malam begini." gumam beliau sambil bergegas melangkah menuju sumber pelita itu.
Ternyata ada seorang bocah kecil yang menggigil kedinginan berada dekat pelita atau disebut Damar, entah siapa bocah lelaki ini...
Tak lama kemudian muncullah lelaki setengah baya memakai baju seorang resi yang berwibawa dan terlihat kokoh tubuhnya...melangkah mendekati bocah kecil yang kedinginan itu.
" Siapa kamu ngger? Kenapa kamu sendirian ditempati seperti?" tanya lelaki itu yang tentu saja mengagetkan bocah kecil itu yang semakin ketakutan. " Sssayaa eeh." dengan gemetar dan ketakutan bocah.
" Jangan takut ngger, aku Resi Tunggul Manik jangan takut." kata lelaki setengah yang ternyata Gajahmada yang tlah berganti nama menjadi Resi Tunggul Manik. Resi Tunggul Manik memeluk bocah kecil tersebut," Maukah engkau ikut aku ngger? Aku sendirian di pesanggrahan Madakaripura..."
Lalu bocah itu memandang wajah Resi Tunggul Manik yang amat berwibawa," Inggih Bapa resi, saya mau ikut Bapa ke pesanggrahan."
Sang Resi tersenyum mendengar jawaban bocah itu, lalu setelah mematikan pelita (Damar) tersebut mereka melangkah menembus kegelapan malam menuju pesanggrahan Madakaripura. Pesanggrahan Madakaripura sebenarnya lebih mirip kompleks kedaton karena begitu luasnya dan bangunan-bangunannya tak ubahnya bangunan-bangunan dalam sebuah kedaton. Tak berapa lama kemudian sampailah Resi Tunggul Manik di gapura utama, bocah kecil itu terbengong-bengong kagum melihat kemegahannya,
" Duh Bapa resi megah sekali gapura bentarnya sebesar bukit... Ini bukanlah gapura pesanggrahan Bapa tapi gapura sebuah kedaton." kata bocah itu, Resi Tunggul Manik tersenyum mendengarnya.
Setelah melewati sebuah alun-alun akhirnya mereka sampai disebuah bangunan yang lebih mirip Sitihinggil, lalu menuju sebelah kanan bangunan tersebut namun ada yang aneh karena dalam kompleks yang pantas disebut sebuah kedaton itu hanya mereka berdua.
Akhirnya Resi Tunggul Manik sampai disebuah rumah besar dan mengajak bocah itu masuk ke dalam,
" Siapa namamu ngger? Bocah itu hendak menjawab namun sang resi berkata lagi," Sudahlah ngger namamu sekarang Damar karena pertama aku melihatmu sedang menyalakan Damar (pelita) untuk menghangatkan badan ditambah wulan karena tepat malam purnama."
Akhirnya Damarwulan diantarkan Resi Tunggul Manik kedalam sebuah kamar yang cukup besar, Damarwulan duduk dipembaringan memandang sekeliling dan berkata kepada resi," Terimakasih Bapa resi karena Bapa mengajak saya tinggal ditempat yang sangat indah ini, tapi kenapa tempat seluas ini kosong tiada seorangpun kecuali kita ...."
Resi Tunggul Manik menghampiri Damarwulan dan memegang dagu bocah itu dan menjawab," Tidurlah ngger ...istirahatlah, anggaplah pesanggrahan ini sebagai rumah juga anggaplah aku seperti Bapamu sendiri.." sambil mengelus kening Damarwulan yang terdiam membisu mendengar kata-kata beliau, lalu meninggalkan Damarwulan di kamar itu, sementara Damarwulan termangu sendiri sampai akhirnya tertidur.
Hari berganti hari bulan berganti bulan tak terasa Damarwulan hampir satu tahun tinggal bersama Resi Tunggul Manik. Banyak hal yang diajarkan sang resi kepada Damarwulan, ilmu keprajuritan, olah kanuragan, dan banyak lagi. Damarwulan dengan tekun mempelajari semua yang diajarkan ayah angkatnya, sang Resi sangat kagum dengan keuletan dan ketabahan Damarwulan dalam menerima gemblengan darinya. Namun Damarwulan masih juga heran kenapa mereka hanya berdua ditempat itu juga perihal siapa sesungguhnya Resi Tunggul Manik ayah angkatnya itu, namun Damarwulan belum berani menanyakan lagi pada sang resi yang sangat disayanginya itu.
Dalam sanggar pamujannya Resi Tunggul Manik sedang bertapa mengheningkan diri, melarutkan jiwa dalam samudra tapa yang tiada batas.....
Dalam tapanya Resi Tunggul Manik mendapatkan petunjuk kalau anak angkatnya yaitu Damarwulan kelak akan menjadi mahaprabu di Mojopait, Resi Tunggul Manik sadar kalau dia harus lebih keras dan tekun menggembleng anak angkatnya dengan berbagai macam ilmu dan pengetahuan ketatanegaraan.
" Aku yakin pada saatnya nanti Damarwulan akan mampu menyatukan kembali Mojopait yang terpecah setelah perang Bubat dulu...duh angger Damarwulan." begitu kata hati Resi Tunggul Manik setelah bangun dari tapanya, lalu tak lama kemudian beliau menuju kamar Damarwulan yang masih satu rumah dari sanggar pamujannya. Rupanya Damarwulan tidak tidur, dia tampak lagi duduk ditepi pembaringan.
" Duh Bapa, ada apa malam malam begitu Bapa menemui saya?" Resi Tunggul Manik duduk disebelahnya," Ketahuilah ngger Bapa hendak menceritakan kepadamu tentang suatu hal penting." Damarwulan memandang wajah ayah angkatnya dengan penuh tanya ,"Ada apakah Bapa?"
Lalu Resi Tunggul Manik menceritakan kisah peralihan dari kerajaan Singosari sampai ke awal berdirinya kerajaan Mojopait. Seolah terbang kembali ke masa lalu.....
Dikisahkan kerajaan Singosari memang didirikan Ken Arok dibekas kadipaten Tumapel setelah menikahi Ken Dedes, ken arok merupakan titisan Ditya Kalagitya mahapatihnya khayangan..........
Selanjutnya pada masa pemerintah Mahaprabu Kertanagara beliau mempunyai putra bernama Kertajaya, seterusnya tahta Singosari diteruskan Mahaprabu Kertajaya. Pada masa inilah Joko Kantiwong seorang putra dari Cina (bangsa Han) diangkat menjadi putra angkat Mahaprabu Kertajaya, beberapa masa kemudian Joko Kantiwong diberi kekuasaan menjadi adipati didaerah Ndandangan. pada awal awal pemerintahan Prabu Jayakatwang atau Prabu Ndandang Gendis berjalan amat baik dan makmur, beliau amat memuliakan ayah angkatnya Mahaprabu Kertajaya di Singosari namun itu hanya berlangsung 6 bulan saja.
Pada hari itu seluruh pembesar kraton Singosari hadir pada pisowanan agung di paseban agung kraton Singosari, para temenggung, adipati, patih dalam maupun Patih Njobo, Mahapatih I Hino, Mahapatih I Halu menempati posisi masing-masing sesuai pangkatnya.
Tak lama kemudian Mahaprabu Kertanaga hadir, seluruh yang hadir memberikan penghormatan pada beliau, kemudian duduk di singgasananya yang indah bertahtakan intan berlian dan emas.
“ Para pembesar kratonku hari ini sengaja aku kumpulkan andhika semua disini untuk menerima utusan dari Kitai Nagari yang hendak membacakan surat dari Kubhilai Khan untukku, apa mereka sudah hadir disini kakang mahapatih?“ Lalu Resi Tunggul Manik meneruskan kisahnya lagi ....
Empu raganatha selaku Mahapatih I Hino menjawab sabda sang Mahaprabu,
" Sendiko dhawuh gusti, mereka utusan dari Kitai Nagari siap masuk ke paseban agung puri dalem keprabon."
Selanjutnya para punggawa membawa utusan dari Mongolia menghadap Mahaprabu Kertanagara, mereka berjumlah 4 orang, salah seorang diantaranya maju kedepan menghaturkan penghormatan pada Mahaprabu,
" Terimalah penghormatan hamba tuan, nama hamba Meng Ki, diutus paduka yang mulia kaisar Kubhilai Khan untuk menyampai salam dan pesan untuk tuan Mahaprabu Kertanagara..."
Lalu Meng Ki ketua utusan itu hendak menyampaikan pesan itu namun Mahaprabu Kertanagara bersabda," Tunggu hey utusan, aku terima salam rajamu, sekarang bacakan pesan dari rajamu dihadapanku!"
 " Kepada Mahaprabu Kertanagara Raja Singosari yang bijaksana, negerimu subur makmur dan indah namun akan tetap subur makmur lagi jika engkau sujud dibawah kekuasaanku Maharaja Agung penguasa dunia yang mulia kaisar Kubhilai Khan yang agung, aku akan lindungi negerimu dan makmurkan negerimu, tetapi engkau menolak maka negerimu akan kuhancurkan, balatentaraku akan meluluh lantakan negerimu .."
Betapa murkanya Mahaprabu Kertanagara mendengar pesan yang dibacakan itu, secepat kilat beliau bangkit mencabut keris salah seorang punggawa yang ada didekatnya lalu mengarahkan keris itu ke wajah Meng Ki, semua yang hadir dipaseban itu terpaku menyaksikan peristiwa itu, termasuk ketua utusan Mongolia itu terpaku. Tak lama kemudian sang Mahaprabu berteriak keris sambil menghunus keris,
" Hey Meng Ki sampaikan pada rajamu ini jawabanku!!" sambil melempar sesuatu yang penuh darah dihadapan Meng Ki.
" Aduuuh perih !!" tiba tiba Meng Ki merasakan perih dan panas diwajah dan telinganya, lalu dia meraba wajah dan telinga kanannya penuh darah!
Rupanya wajah dan telinga kanannya terluka, bahkan daun telinga kanan terpotong tak dia sadari,
" Aduuuh telingaku aduuuh....kurang ajar kau Mahaprabu! Engkau akan membayar penghinaan ini! Paduka kaisar Kubhilai Khan akan meratakan negerimu!" teriak Meng Ki memegang telinganya yang terputus, seluruh yang hadir mencabut senjata masing-masing termasuk 3 orang utusan teman Meng Ki.
 " Hahaha katakan pada Kubhilai Khan, aku Kertanagara akan membantai semua bala tentaranya tanpa sisa! Bahkan sekalian rajamu itu!" sang Mahaprabu berkacak pinggang, lalu Mahapatih Raganatha berbicara,
"Mohon ampun gusti prabu, tindakan paduka akan memancing peperangan gusti, melukai utusan itu suatu pelanggaran gusti.."
Suasana masih tegang ,seluruh punggawa kedaton menghunus senjata mengepung keempat utusan Mongolia itu," Gusti prabu sebaiknya biarkanlah keempat utusan Kitai Nagari itu meninggalkan paseban agung ini.."
Mahapatih Raganatha meminta Mahaprabu Kertanagara membiarkan keempat utusan itu pergi.
" Tentu saja kakang mahapatih, mereka harus segera pulang kenegerinya untuk menyampaikan pesanku! Heey kau Meng Ki! Katakan pada rajamu aku tak sudi tunduk padanya! Negerimu terlalu kecil bagi kekuatan angkatan perangku! Katakan pada rajamu!"
Memang sejak saat Mongolia menyerang Nuswantara berkali-kali namun slalu gagal, selanjutnya Resi Tunggul Manik berkata pada Damarwulan," Ngger Damarwulan, pihak Mongolia memang selalu gagal menyerang Nuswantara namun mereka menggunakan siasat licik setelah mengetahui putra Mahaprabu Kertanagara yaitu Mahaprabu Kertajaya penerus tahta Singosari memiliki anak angkat dari Cina atau Han yaitu Joko Kantiwong atau Jayakatwang."
Damarwulan dengan serius menyimak kisah yang diceritakan ayah angkatnya, ketika mendengar Jayakatwang diangkat menjadi adipati Ndandangan dengan gelar Prabu Dandang Gendis, Mongolia mengirim utusan untuk menghasut prabu Ndandang Gendis supaya melawan ayah angkatnya yaitu Mahaprabu Kertajaya. Maka berangkatlah rombongan Mongolia dengan menyamar sebagai utusan perdagangan ke kadipaten Ndandangan, setelah memasuki Ujung Galuh kapal kapal dari Mongolia menelusuri sungai Berantas hingga tiba di pelabuhan Canggu. Dari pelabuhan ini kapal-kapal berwarna biru ini diizinkan melanjutkan perjalanan ke Ndandangan, beberapa lama kemudian sampainya mereka di pelabuhan Ndandangan yang kemudian terkenal dengan nama jong biru karena adanya beberapa kapal-kapal Mongolia yang merapat berwarna biru.
Setelah beberapa hari merapat dan mengamati perkembangan di kota Ndandangan dan kedaton, para intelijen Mongol berencana menemui Prabu Dandang Gendis di tempat yang aman dari pengamatan prajurit Singosari. sementara Mahapatih I Hino Singosari Prabu Banjaransari dari Karang Kamulyan sejak semula kurang setuju dengan pengangkatan Joko Kantiwong menjadi adipati di kadipaten Ndandangan selalu menempatkan prajurit telik sandinya di Ndandangan untuk mengawasi Prabu Dandang Gendis.
Dua hari kemudian Prabu Dandang Gendis menerima surat dari pedagang Mongolia di luar kraton ketika pulang dari berburu, selanjutnya masuk ke puri dalem keprabonnya dan membuka surat yang berhuruf Han...lalu membacanya.. tak lama setelah membaca surat itu raut mukanya berubah merah padam..tubuhnya bergetar ...seperti menahan amarah yang luar biasa...
" Rupanya Eyang Kertanagara yang melukai dan memotong telinga kakak Meng Ki ! Ini tidak bisa dibiarkan!" begitu seru Prabu Dandang Gendis. Lalu dipanggilnya utusan Mongolia yang menyamar sebagai utusan perdagangan dari Mongolia menghadap di puri dalem keprabon.
" Apa benar isi surat ini?"
Utusan itu menjawab," Benar tuan prabu, Meng Ki adalah kakak kandung tuan, tuan harus membalas penghinaan ini."
Prabu Jayakatwang bimbang, dia gelisah dengan situasi ini, utusan Mongolia tersenyum karena siasat dan hasutannya berhasil, dia terus menghasut Adipati Ndandangan tersebut. Sampai akhirnya Prabu Jayakatwang benar-benar terhasut dan berencana memberontak pada ayah angkatnya sendiri yaitu Mahaprabu Kertajaya di Singosari. Tanpa disadari Prabu Jayakatwang, prajurit telik sandi yang ditugaskan Mahapatih Banjaransari mengetahui rencana makar tersebut segera melaporkan kepada sang Mahapatih di kepatihan. Setelah menerima laporan prajurit telik sandi, Mahapatih Banjaransari memerintahkan bawahan untuk menyiapkan pasukan untuk mengawal Mahaprabu Kertajaya meninggalkan kedaton menuju kadipaten Karang Kamulyan, sementara beliau sendiri menghadap Mahaprabu Kertajaya di puri dalem keprabon kedaton Singosari malam itu juga. dengan tergopoh-gopoh Mahapatih Banjaransari menghadap raja terakhir Singosari,
" Ketiwasan gusti prabu ketiwasan."
" Ada apa ini mahapatih? Kenapa malam malam begini andhika menghadap tanpa kupanggil?"
" Ini sangat darurat gusti prabu, mohon ampun gusti sekarang juga, hamba mohon gusti ikut dengan hamba menuju Karang Kamulyan."
" Tetapi ada apakah ini tolong jelaskan padaku."
" Mohon ampun gusti prabu tak ada waktu lagi, punggawa ! Bawa gusti prabu ke tanggulangin ! Siapkan armada udara ! Kita pergi ke Karang Kamulyan !" Mahaprabu terpaksa menuruti kehendak Mahapatih kepercayaannya tersebut diiringi para punggawa menuju tanggulangin dan bersama armada udara menuju kadipaten Karang Kamulyan!
Sementara itu kadipaten Ndandangan mempersiapkan balatentaranya menyerbu kraton pusat Singosari, tampak ratusan kapal dari Mongolia merapat dipelabuhan menggabungkan diri dengan pasukan Ndandangan. Pada pagi hari seluruh pasukan gabungan tlah mengepung kotaraja Singosari, perangpun tak dapat dihindarkan lagi. Namun karena sebagian besar pasukan perang Singosari dibawa ke Karang Kamulyan sehingga peperangan terjadi tidak seimbang, pasukan Singosari terdesak mundur ke dalam kedaton dan bertahan sampai matahari terbenam.
Melalui peralatan khusus Mahapatih Banjaransari memerintahkan sisa-sisa prajurit yang ada untuk meninggalkan kedaton Singosari menuju tempat rahasia guna menyusun strategi perlawanan kelak. Akhirnya kedaton pusat Singosari jatuh ke tangan pasukan gabungan Ndandangan dan Mongolia, Prabu Dandang Gendis alias Jayakatwang sangat puas dengan kekalahan Singosari terutama dendamnya pada Mahaprabu Kertanagara yang merupakan eyang angkatnya yang telah melukai wajah dan memotong telinga kanan Meng Ki utusan Mongolia yang dipercayanya sebagai kakak kandungnya.
Damarwulan tertegun mendengar penuturan Resi Tunggul Manik ketika sampai pada kisah pemberontakan Jayakatwang kepada ayah angkatnya, hal ini membuat Resi Tunggul Manik menghentikan kisahnya dan bertanya pada anak angkatnya itu.
" Ada apa ngger? Kenapa engkau tertegun mendengar kisah Jayakatwang? Apa yang mengganggumu ngger ?"
" Nuwun sewu Bapa sebenarnya buat apa Bapa menuturkan semua ini pada saya?"
Sang Resi menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Damarwulan, sejenak keduanya membisu tanpa membuat gerak maupun suara.
" Dengarkanlah ngger sejak bertemu denganmu, hatiku yakin engkaulah orang yang tepat menjadi pemimpin besar di Nuswantara ini ..menyatukan kembali keutuhan Jawa yang terpecah sejak perang Bubat beberapa tahun yang silam."
Damarwulan semakin tak mengerti dengan maksud perkataan Bapanya itu," Saya bingung Bapa, apa hubungan saya dengan Nuswantara Bapa? Saya hanya anak desa Bapa..."
" Semula Bapa tak yakin ngger ...Namun dalam semadiku Sang Hyang Batara Indra memberi petunjuk bahwalah engkaulah ngger Damarwulan yang kelak menjadi mahaprabu di Mojopait menggantikan ananda Hayam Wuruk.."
Damarwulan semakin terperanjat mendengar kata kata Bapanya, “ Menjadi mahaprabu di Mojopait?“
Sungguh hal yang tidak mungkin terjadi baginya yang hanya seorang anak rakyat jelata ! Anak desa dari lereng Gunung Kampud akan menjadi maharaja tertinggi di Nuswantara! Antara bingung dan tak percaya Damarwulan mencoba menguasai diri. Setelah melihat anak kesayangannya telah tenang Resi Tunggul Manik mencoba berbicara lagi," Damarwulan anakku dengarkanlah dan rahasiakanlah apa yang Bapa katakan ini....tahukah Engkau ngger siapa sebenarnya Bapa ini?"
Damarwulan menggelengkan kepalanya, " Bapa sebenarnya bekas Mahapatih I Hino Gajahmada atau Maudara di kerajaan Mojopait, sekaligus ayah kandung Mahaprabu Hayam Wuruk." betapa terkejutnya Damarwulan mendengarnya betapa tidak ! Orang yang selama ini mengasuhnya, mengasihinya seperti anaknya sendiri ternyata seorang yang sangat besar peran dan pengaruhnya di Nuswantara! Mahapatih I Hino Gajahmada !!
Dengan tubuh gemetar dan keterkejutan yang luar biasa Damarwulan menjadikan badannya, menyembah kaki sang Gajahmada yang berdiri dihadapannya," Mohon ampun gusti ....mohon ampun gusti ...ampunkanlah kebodohan hamba yang tidak mengetahui siapa gusti yang sebenarnya...ampun.."
Resi Tunggul Manik segera menarik tangan Damarwulan untuk berdiri," Ngger Damarwulan apa yang angger lakukan ..berdirilah ngger, bolehkah Bapa tetap menjadi Bapamu?"
Damarwulan menggangguk dan memeluk Bapa angkatnya yang sangat disayangi dan dihormatinya itu, demikian pula Resi Tunggul Manik memeluknya seperti memeluk anaknya sendiri, selama hidupnya Resi Tunggul Manik belum pernah memeluk anak kandungnya sendiri, hari ini semua kerinduannya pada Hayam Wuruk seakan telah terobati dengan memeluk Damarwulan.
Setelah puas memeluk Damarwulan, Resi Tunggul Manik mengajaknya ke sanggar pamujan masih dalam areal rumah ksatriyan itu selanjutnya melanjutkan kisahnya tentang pemberontakan Jayakatwang.
Memang keadaan Nuswantara saat itu dalam keadaan siaga mengingat adanya ancaman dari kerajaan Mongolia yang sejak zaman pemerintahan Mahaprabu Kertanagara di Singosari selalu menyerang Nuswantara dengan armada lautnya berkali-kali namun setiap kali serangan bisa diatasi armada laut maupun armada udara Singosari, pada kesempatan itu Damarwulan yang mulai beranjak remaja memberanikan diri bertanya pada ayah angkatnya.
" Nuwun sewu Bapa sebenarnya kenapa kerajaan Mongolia begitu bernafsu ingin menyerang dan menghancurkan Nuswantara Bapa?"
            " Angger Damarwulan kerajaan Mongolia sejak zaman pendirinya dahulu yaitu Jengis Khan telah berambisi menaklukan Nuswantara, terbukti dengan serangan-serangan yang dilancarkan putra-putranya ke Pasir Mesisir, Babilionia, Romawi dan lain-lainnya yang dulu juga wilayah Nuswantara pada zaman-zaman kerajaan sebelum Singosari, lalu saat kekuasaan dipegang Kubhilai Khan mereka mengirim utusan kepada Mahaprabu Kertanagara."
" Apakah mereka mengirim utusan untuk meminta kerajaan Singosari tunduk pada kekuasaan Mongolia Bapa?"
" Bener ngger, Meng Ki kepala utusan itu membacakan tuntutan raja Mongol supaya Mahaprabu Kertanagara tunduk pada kekuasaan Mongolia, tentu saja Mahaprabu Kertanagara murka."
Selanjutnya Resi Tunggul Manik menceritakan pergerakan armada udara yang membawa Mahaprabu Kertajaya ke Karang Kamulyan, namun mendadak terdengar khabar kalau adanya serangan dari Kian Santang ke Panjalu, hal ini membuat Mahapatih Banjaransari memutuskan untuk menuju Magadha tempat anak tertuanya berada yaitu Adipati Siung Wanara. Armadapun mendarat di Magadha, di sana Mahaprabu Kertajaya meminta Mahapatihnya Banjaransari menjadi Mahaprabu sampai tiba petunjuk siapa yang pantas menjadi Mahaprabu berikutnya yang mampu mengembalikan kejayaan Nuswantara.
Dalam keadaan genting Mahaprabu Banjaransari memerintahkan Prabu Siung Wanara mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memukul balik Kian Santang, sebelummya Prabu Cakradewa adik kandung Prabu Siung Wanara mengungsikan keluarga dan seluruh rakyatnya dari Panjalu menuju Karang Kamulyan melalui terowongan bawah tanah. Ketika Kian Santang sampai di Panjalu mendapati perlawanan dari prajurit Panjalu namun perlawanannya tidak sepenuhnya karena memang itu suatu taktik supaya Kian Santang dan pasukan mudah menguasai kadipaten Panjalu dan mengira Prabu Cakradewa Tilem beserta seluruh rakyatnya dan siasat ini berhasil.
Setelah penyerangannya berhasil Kian Santang kembali ke Limbangan dan mulai mendirikan Pajajaran, sementara itu Prabu Siung Wanara mulai memasuki Limbangan dengan seluruh kekuatan pasukannya, tak berapa lama kemudian pasukan itu memasuki markas pasukan Kian Santang dan terjadilah peperangan yang dahsyat. Prabu Siung Wanara berhadapan dengan Kian Santang, terjadi pertarungan yang dahsyat!
Saling adu senjata, ajian yang seru, namun secara pasti Kian Santang terdesak juga pasukannya, tak sampai tengah hari Prabu Siung Wanara menghabisi Kian Santang dengan keris Kyai Plered, melihat pemimpinnya gugur seluruh pasukan menyerah.
" Selanjutnya Mahaprabu Banjaransari memanggil kedua putranya Prabu Siung Wanara dan Prabu Cakradewa ke Karang Kamulyan untuk menyusun rencana merebut kembali Singosari dari Jayakatwang, Maharesi Kertajaya turut dalam pertemuan itu ngger." kata Resi Tunggul Manik melanjutkan pembicaraan, Selanjutnya Resi Tunggul Manik membawa Damarwulan seolah olah kembali ke masa kerajaan Singosari pada pemerintahan Mahaprabu Kertajaya.
“ Dalam pertemuan di Puri Dalem Keprabon Karang Kamulyan tak bisa menemukan cara menundukan Jayakatwang, semua kecewa baik kedua putra Mahaprabu Banjaransari, terutama Maharesi Kertajaya yang menyesali kelakuan Jayakatwang putra angkat yang sangat dicintainya. Malampun tiba menyelimuti jagad, Sang Mahaprabu Banjaransari menuju sanggar pamujan, siap bersemadi meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Ketika tengah malam tiba mahaprabu dibangunkan dari semedinya,
" Bangunlah Banjaransari .....hanya cucumu yang bisa membawa kembali keutuhan dan kejayaan negerimu..." kata suara yang memberi petunjuk, Mahaprabu Banjaransari memberi hormat dan bertanya," Duh pukulun ngaturaken sembah bekti kawulo atas petunjuknya, siapakah dia diantara cucu hamba pukulun ?"
" Haryo Sedah .."
" Haryo Sedah ? Duh pukulun cucu hamba yang ini bukanlah seorang yang bisa berperang pukulun ?"
" Tapi ingat Banjaransari, Haryo Sedah harus berperang layaknya seorang ksatria! Jika tidak kelak negerimu ini akan menerima karma! Terpuruk lama setelah runtuhnya kerajaan yang akan didirikan haryo Sedah cucumu! Ingatlah banjaransari !"
Setelah terakhir bersabda Sang Hyang Indra pergi ke khayangan. Sang Mahaprabu tertegun sesaat setelah menerima petunjuk," kenapa harus haryo Sedah yang menerima amanat ini? Bukan Haryo Bangah yang memang seorang satrio?"
Memang benar apa yang dipikirkan sang Mahaprabu karena Haryo Sedah lain daripada para pangeran lainnya yang suka menjadi ksatria yang berperang membela negara di medan laga justru haryo Sedah lebih suka bercocok tanam didesa sehingga rakyat memanggilnya Raden Tanduran. Prabu Siung wanara dipanggil ayahandanya di puri dalem kepabron, di sana telah hadir pula Maharesi Kertajaya dan Prabu Cakradewa,
" Ngger anakmas Siung Wanara bagaimana cara membuat anakmu ragil si Haryo Sedah supaya mau menerima amanat memimpin Nuswantara dan merebut kembali tahta dari Jayakatwang beserta pasukan Mongol?"
" Memang sulit kanjeng Rama untuk membuat Haryo Sedah mau meninggalkan tanamannya apalagi menyuruhnya berperang."
Maharesi kertajaya menyela," Panggil saja Raden Tanduran menghadap kesini, nanti biarlah aku yang memintanya pergi ke wetan memimpin penyerangan merebut kedaton Ndandangan."
Mahaprabu dan kedua putranya menyetujui usul Maharesi Kertajaya.
Lalu dikirimlah utusan ke desa tempat Raden Tanduran berada, disuatu persawahan mereka berhasil menemukannya saat beristirahat disebuah gubug,
" Mohon ampun raden, hamba utusan dari Kraton Karang Kamulyan membawa titah dari eyang raden sang Mahaprabu Banjaransari untuk menghadap."
Raden Tanduran sangat menghormati eyangnya, sehingga tak bisa menolak titah beliau.
" Baiklah utusan besok aku akan menghadap ke Karang Kamulyan."
Sepeninggal utusan dari Karang Kamulyan itu Raden Tanduran tak beranjak dari gubug ditengah persawahan itu, sambil menyantap polo pendem Raden Tanduran menyandarkan tubuhnya ke tiang bambu gubug itu,
“ Apa? Ada apa eyang Banjaransari memanggilku ke Karang Kamulyan? Apa ada hubungannya dengan pemberontakan di Wetan? Hmm biarlah itu menjadi urusan besok.“
Raden Tanduran tertidur digubuk sampai sore hari. Malam harinya seperti biasa Raden Tanduran bercengkrama dengan Aki Soma dan Nini Soma di beranda rumah.
“ Nini, itu sudah kehendak Dewata jika memang Raden Tanduran harus meninggalkan kita di sini, garis takdir menunggunya untuk berkiprah, kita harus rela dan bangga kita suatu hari kelak Raden Tanduran menjadi tokoh besar di Nuswantara ini pernah hidup bersama kita disini, menaman polo pendem, polowijo didesa ini“.....tak terasa Aki Soma menitik air mata.
Demikian pula Nini Soma menitikan air mata membuat hati Raden Tanduran semakin sedih karena memang sebenarnya diapun berat meninggalkan Aki dan Nini Soma, itu merupakan pertemuan terakhir bagi mereka. Esok harinya di puri ndalem keprabon Karang Kamulyan diadakan pisowanan agung yang khusus dihadiri para sesepuh kerajaan dan seluruh panglima armada, tak berapa lama kemudian Raden Tanduran datang dan menghaturkan sembah bekti pada sesepuh kerajaan diantaranya eyang mahaprabu banjaransari, Maharesi Kertajaya, Ayahanda Prabu Siung Wanara, pamanda Prabu Cakradewa, kakanda Haryo Bangah, setelah menghaturkan sembah bekti Raden Tanduran duduk bersila menanti sabda para sesepuh,“ananda Haryo Sedah kami semua memanggil ananda ke pisowanan agung ini untuk meminta kesanggupan ananda melaksanakan titah dari eyangmu“, Maharesi Kertajaya memulai sabda,
“ Mohon ampun eyang Maharesi titah apakah yang harus ananda laksanakan?“
“ Biarlah eyangmu sendiri yang menitahkan kepadamu ngger. Lalu sang Mahaprabu Banjaransari bersabda,“ Ananda haryo Sedah sesuai petunjuk yang Mahakuasa, hanya engkaulah yang sanggup membawa kejayaan kembali Nuswantara, hanyalah anandalah yang mampu menjadi Maharaja di Nuswantara ini, hari ini kami para eyang, Bapa, pamanda, kakandamu serta seluruh panglima armada menanti kesanggupan ananda menerima amanat ini.....“
Bergetar kencang jantung Raden Tanduran, gemetar seluruh tubuhnya dia tak menyangka menerima titah dari eyangnya yang amat berat baginya, Raden Tanduran terdiam, wajahnya pucat pasi, tertunduk tanpa daya, melihat hal itu Haryo Bangah menghampiri adiknya dan menepuk bahunya dan berkata,
“ Adinda jangan takut kakanda dan seluruh yang hadir di pisowan agung ini akan membantumu dengan segala daya, adinda bangkitlah tunjukan kalau engkau juga seorang ksatria dari Magadha!“
Raden Tanduran mengangkat wajahnya memandang wajah kakandanya,“ Benar kakanda dinda juga seorang ksatria magadha!“ tersenyum Haryo Bangah mendengar Jawaban adindanya selanjutnya Maharesi Kertajaya juga bersabda, “ Ananda Haryo Sedah benar apa yang Dikatakan kakandamu, kamu pasti bisa melaksanakan amanat ini, namun ingatlah ngger bertindaklah secara ksatria, karena engkau adalah seorang ksatria!“
Selanjutnya ayahanda, pamanda juga memberikan dukungan pada Raden Tanduran namun sebenarnya dalam hati dia merasa tak sanggup memanggul amanat ini, sejak kecil dia tak suka kekerasan apalagi peperangan karena kecil dia lebih suka menaman polowijo dan hidup didesa, namun dihadapan para sesepuhnya tak mungkin dia menolak amanat ini.
“ Baiklah para eyang, Bapa prabu, pamanda prabu dan seluruh yang hadir di pisowan agung ini. Hamba ananda Haryo Sedah siap menerima dan melaksanakan amanat yang mahaberat ini.. Semoga Yang Mahakuasa menguatkan ananda...“
Semua yang hadir merasa lega akan kesanggupan Raden Tanduran menerima amanat, selanjutnya disusun strategi perebutan kembali Tlatah wetan dari tangan adipati Ndandangan Prabu Ndandang Gendis atau Jayakatwang.
" Nuwun sewu Bapa, apa dalam pertemuan itu tercapai sebuah rencana untuk merebut kembali Jawi Wetan ?"
 " Sebenarnya sulit untuk menyusun rencana itu ngger, karena Jayakatwang terlanjut menguasai instalasi berbahaya tersebut, bahkan Maharesi Kertajaya sendiri dulu yang memilih Jayakatwang untuk memegang instalasi itu tak bisa mematahkan kode rahasianya karena telah diubah oleh Jayakatwang."
“ Ngger, Jayakatwang memegang kendali pertahanan Singosari dan instalasi yang amat berbahaya, tentu saja kalau seluruh armada besar dikerahkan akan mudah terlacak oleh Jayakatwang dan bila dia panik maka instalasi itu akan digunakan maka seluruh Jawa akan tenggelam, ini yang sangat dihindari Mahaprabu Banjaransari, makanya penyamaran harus dilakukan dan harus menempuh perjalanan darat dengan jalan kaki dari Karang Kamulyan menuju Tlatah Wetan. Resi Tunggul Manik meneruskan kisahnya, dalam perjalanan yang amat jauh itu Raden Tanduran beserta 50 orang prajurit khusus menyamar sebagai petani yang berpindah-pindah tempat, dari ladang ke ladang hingga mendekati Tlatah Wetan, hampir 2 purnama lamanya mereka bergerak. Ketika memasuki daerah Watu Jago disebelah timur Gunung Mahendro Raden Tanduran mengajak rombongan berhenti beristirahat disana, para prajurit yang
Yang menyamar itu segera membuat gubug untuk peristirahatan, sementara yang lain membuka ladang. Raden Tanduran beristirahat di dekat Watu Jago bersama temenggung senopati prajurit khusus yang bernama Temenggung Sucitro," Paman Citro apa kadipaten Ndandangan masih jauh?"
" Masih cukup jauh raden, memangnya ada raden ? "
" Tidak ada apa apa kok paman hanya capek saja berjalan dari Magadha sampai di Watu Jago ini, paman pernah tahu kekuatan angkatan perang Ndandangan dan mongol?"
" Sangat tahu raden, karena dulu paman pernah menjadi prajurit Singosari sebelum diperintahkan eyang raden bergerak ke Karang Kamulyan, mereka sebenarnya tidak terlalu istimewa raden, hanya prabu Jayakatwang memegang kendali instalasi yang penting dan berbahaya sehingga menyulitkan kita menghadapinya."
" Benarkan itu paman ?"
" Benar raden, seandainya seluruh kekuatan Mongol dan seluruh didunia digabungkan melawan kita, kita pasti unggul raden.
" Walaupun Temenggung Sucitro memberi keyakinan pada Raden Tanduran tetap saja semangatnya yang belum bangkit, malahan Raden Tanduran memerintahkan prajurit prajuritnya untuk menaman palawija dan bertahan disekitar Watu Jago sampai memanen palawija, tentu saja prajurit-prajurit tak bisa membantah perintahnya termasuk Temenggung Sucitra yang tak henti hentinya menasehati Raden Tanduran untuk melaksanakan tugas merebut kedaton Ndandangan.
Akhirnya sudah hampir 7 hari, Raden Tanduran ngotot bertahan ditempat ini, hal ini memaksakan Temenggung Sucitro bertindak demi menjalankan tugas utama merebut kedaton Ndandangan. Diam-diam Temenggung Sucitro mengambil peralatan khusus yang disembunyikan dalam sebuah besek lalu menuju tempat yang tidak diketahui Raden Tanduran dan para prajurit, rupanya senopati prajurit khusus ini mengadakan komunikasi rahasia dengan mahaprabu Banjaransari di Karang Kamulyan.
Dalam komunikasi tersebut Temenggung Sucitro melaporkan tindakan Raden Tanduran yang berlama-lama bertahan dikawasan Watu Jago seperti enggan bahkan hendak meneruskan perjalanan. Mahaprabu Banjaransari kecewa cucunya takut menjalankan amanatnya, pada malam harinya beliau menggunakan Ajian Ngrogo Sukma untuk mengingatkan Raden Tanduran akan tugas utamanya.
Sementara di Watu Jago malam telah larut, sebagian prajurit telah tidur termasuk Raden Tanduran yang tampak pulas, dalam alam mimpi Raden Tanduran seolah olah berada di padang ilalang yang luas, hanya seorang diri.
Di padang ilalang itu Raden Tanduran bingung tak tahu arah harus menempuh arah, ditengah kebingungannya terdengar ayam jago berkokok dengan suara nyaring membahana ke seluruh padang ilalang ...Raden Tanduran mendekati suara ayam jago itu, ternyata ayam itu berada diatas batu ditengah padang ilalang itu. Raden Tanduran semakin mendekat tiba tiba terdepan suara memanggil-manggil,
" Eyang ,eyang lihatlah cucumu ini eyang ..." Raden Tanduran terkejut karena tak ada orang lain di padang ilalang selain dirinya dan ayam jago itu.
" Hai siapakah engkau tunjukkanlah dirimu padaku ! "
" Eyang ,eyang saya disini eyang ..." Raden Tanduran makin bingung,
" Di sini dimana ? Ayo jangan bermain main padaku ! "
" Eyang saya ada didepanmu eyang ..." Raden Tanduran melihat didepannya hanyalah seekor ayam jago yang tadi berkokok," Di depan tak ada jalma manungso kecuali seekor ayam jago itu ! "
" Eyang Mahaprabu Brawijaya saya ini ayam jago yang ada di depan eyang ."
Alangkah terkejutnya Raden Tanduran dengan kenyataan yang dihadapinya ," Engkau sebenarnya siapa ? Ayam jago ? Kenapa engkau memanggilku eyang ? Dan sebutan Mahaprabu Brawijaya ?"
" Eyang, saya adalah cucumu Hayam Wuruk yang kelak menjadi Mahaprabu di Nuswantara, namun eyang semua tak kan terjadi bila eyang tidak melaksanakan amanat para sesepuh eyang Mahaprabu Banjaransari merebut kedaton Ndandangan dari Prabu Jayakatwang, maka ananda cucumu ini eyang tidak akan pernah terlahir, tetap menjadi ayam jago selamanya.."
Raden Tanduran tertunduk, tak mampu memandang tatapan memelas dari ayam jago itu. " Jika eyang tidak kasihan kepada cucumu ini terserah eyang mungkin sudah nasibku yang hidup jadi ayam jago kesepian seumur hidup.."
" Tidak tidak bukan begitu !"
Tiba tiba ayam itu menghilang dan terbangunlah Raden Tanduran dari tidurnya. Para prajurit terbangun dari tidurnya setelah mendengar teriakan Raden Tanduran dan menghampiri Raden Tanduran di dalam gubugnya," Ada apa raden ? Ada apa ? Tanya Temenggung Sucitro yang ikut terbangun.
" Tiiidak ada apa apa ... Paman, sudahlah paman sebaiknya semua bersiap siap menuju Ndandangan esok."
Lega hati Temenggung Sucitro seluruh prajurit khusus itu mendengar perintah Raden Tanduran untuk segera berkemas melanjuntukan perjalanan menuju kadipaten Ndandangan," Sendika dawuh raden, kami segera berkemas kemas, ayo prajurit persiapkan semua menuju Ndandangan!" perintah Temenggung Sucitro kepada anak buahnya, tak lama kemudian terdengar ayam berkokok dari tengah hutan rombonganpun kembali berjalan kaki ke arah timur melanjutkan perjalanan.
" Bapa resi, apakah Raden Tanduran benar-benar berniat menyerbu ke Ndandangan?"
Damarwulan menanyakan apa benar Raden Tanduran benar-benar berniat melanjuntukan perebutan kembali Ndandangan," Sebenarnya Raden Tanduran bimbang ngger, namun karena dalam mimpinya bertemu ayam jago yang mengaku cucunya beliau jadi kasihan, lalu berniat melanjutkan perjalanan."
" Dalam perjalanan kaki selama 1 hari, sampailah di tepi sungai Brantas, karena dalam penyamaran supaya tidak terdeteksi pihak Jayakatwang sehingga terpaksa mereka membuat rakit untuk menyeberangi sungai Berantas untuk menuju Singosari ."
" Untuk apa harus ke Singosari dulu Bapa?"
" Karena sebenarnya masih ada satu bregodo prajurit Singosari yang bersembunyi disana, maka Raden Tanduran dan 50 prajurit khusus dari Kulon akan bergabung dan menyusun strategi untuk menyerang Ndandangan dari sana ngger ,namun..."
Resi Tunggul Manik menghentikan kalimatnya.
" Lalu kenapa Bapa ?"
" Semua itu tak pernah kesampaian ngger ... Ketika rakit siap diturunkan ke air dari arah timur terlihat rombongan kapal jung berwarna biru berjajar memenuhi sungai Berantas."
" Apakah itu armada dari Mongolia Bapa ?"
" Benar ngger mereka sengaja dikirim kaisar Kubhilai Khan untuk membantu Jayakatwang yang hendak meluaskan wilayah ke Kulon, karena Raden Tanduran belum tahu seumur hidupnya melihat rombongan armada laut sebuah kerajaan bahkan armada dari Magadha sekalipun, sehingga melihat banyaknya kapal dan prajurit Mongolia yang lewat membuat Raden Tanduran gemetaran ketakutan."
Lalu Resi Tunggul Manik menceritakan bagaimana takutnya Raden Tanduran melihat begitu banyaknya prajurit Mongolia, dengan gemetar ketakutan Raden Tanduran berkata pada Temenggung Sucitro," Paman sucitro apa mungkin kita bisa melawan musuh sebanyak itu ..paman, apa kita bisa selamat dari mereka paman?"
" Raden Tanduran kekuatan mereka tak ada artinya bagi armada kita ! Raden Tanduran bahkan kami yang hanya 50 orang prajurit saja sanggup melawan mereka !" Jawab Temenggung Sucitro lantang menyadarkan junjungannya.
 Tidak paman ! Kita takkan menang ! Kita pasti tidak selamat paman ! "
" Raden ingatlah amanat eyang mahaprabu ! Raden pasti mampu ! Raden juga ksatria Magadha yang unggul !"
Sampai pada kisah ini Damarwulan bertanya pada Resi Tunggul Manik,“ Bapa kenapa Raden Tanduran hanya diringi 50 orang prajurit khusus? Bukan angkatan perang Tlatah Kulon amat sanggup menghancurkan kadipaten Ndandangan?“
" Sebenarnya yang ditakutkan Mahapatih Banjaransari bukanlah bantuan tentara Mongol ngger, tetapi Jayakatwang menguasai instalasi yang sangat berbahaya karena bila Jayakatwang marah dia bisa menenggelamkan seluruh tanah Jawa, itulah yang disesalkan Mahapatih Banjaransari kenapa instalasi berbahaya itu sampai diserahkan pada Jayakatwang."
Pada suatu tempat mereka berhenti di suatu tempat didekat pantai, Temenggung Sucitro mencoba membujuk Raden Tanduran," Raden kenapa harus lari raden? Bregodo kita di Singosari menunggu kita disana raden ?"
" Maafkan saya paman Temenggung, tetapi saya takut melihat kekuatan Mongolia belum lagi ditambah dengan kekuatan Ndandangan paman .. .kita harus minta bantuan Adipati Manduro paman .." Temenggung Sucitro mengerti ketakutan junjungannya itu.
" Baiklah Raden Tanduran, sekarang kita menyeberang ke Manduro menuju kediaman Adipati Cakraningrat."
Lalu merekapun menuju Manduro menumpang perahu nelayan hanya Raden Tanduran yang ke Manduro sementara 50 orang prajurit tersebut bertahan didekat pelabuhan Ujung Galuh yang dijaga ratusan prajurit Ndandangan dan prajurit Mongolia, untuk menyusun strategi penyerangan terhadap Ndandangan, sebagian menuju Singosari menghubungi Bregodo pasukan Singosari. Sementara itu Raden Tanduran dan Temenggung Sucitro telah sampai di kedaton Manduro, Adipati Arya Wiraraja menerima Raden Tandurandan Temenggung Sucitro di puri dalem keprabon, sang Cakraningrat amat terkejut dengan pelarian Raden Tanduran dari tugas mulia merebut Ndandangan," Raden Haryo Sedah, kenapa harus lari seperti ini? Biarpun raden belum pernah berperang di medan peperangan tapi hamba yakin raden juga seorang ksatria yang sakti mandraguna keturunan yang perkasa Mahaprabu Watugunung dari Magadha yang pernah mengalahkan para dewa dikhayangan! Janganlah takut raden, hamba akan mengerahkan seluruh prajurit Manduro membantu raden melawan Jayakatwang dan Mongol !"
Raden Tanduran tampak lega dengan perkataan Adipati Cakraningrat tersebut," Terimakasih paman Cakraningrat ."
" Temenggung Sucitro, andika amat mengenali dan paham betul keadaan pelabuhan Ujung Galuh, aturlah siasat bersama senopatiku untuk mencegat dan menghancurkan semua kapal kapal jung Mongolia yang hendak kembali ke negerinya besok pada hari menjelang malam." Temenggung Sucitro dan senopati Lembu Sora menjawab," Sendiko dawuh kanjeng adipati."
 Adipati cakraningrat ikut bersama dalam pasukan gabungan itu, melihat banyaknya dukungan dari Manduro dan Singosari membuat keberanian Raden Tanduran timbul. Sementara itu disebelah selatan pelabuhan Ujung Galuh yang kelak dikemudian hari disebut Surabaya, Sura artinya berani, Baya artinya bahaya jadi artinya tempat pertama kali Raden Tanduran berani menghadapi bahaya. Pada menjelang malam siasat penyergapan telah disiapkan di selatan pelabuhan Ujung Galuh, ratusan prajurit menyamar sebagai nelayan yang menumpang perahu-perahu nelayan, lengkap dengan persenjataannya sementara ratusan lainnnya bersiap-siap dengan persenjataan berat berada kedua tepi sungai Mas yang tersembunyi, tak lama kemudian dari arah selatan nampak 3 kapal jung Mongolia sedang berlayar menuju pelabuhan, Senopati Lembu Sora melaporkan kepada Adipati Cakraningrat kalau ada 4 lagi kapal jung Mongolia yang agak jauh dari rombongan pertama,
" Bapa adipati apakah boleh kita serang mereka sekarang?" sang Adipati Manduro berpaling kearah Raden Tanduran," Raden Tanduran apa kita serang mereka? Sudah siapkah diri raden?" dengan suara lantang menjawab,
" Tentu saja saya siap paman adipati ! ! Tetapi kita tunggu tanda dari paman Temenggung Sucitro yang akan memberi tanda dimulainya serangan dengan letusan tembakan laser dari kerisnya !"
" Baiklah raden kami siap ! " sementara itu perahu perahu nelayan yang ditumpangi ratusan prajurit tlah membuat posisi menghalangi laju kapal jung musuh dengan merapatkan perahu masing-masing sehingga mau tidak mau kapal-kapal musuh akan terhenti dan itu tanda dimulainya penyergapan, beberapa saat kemudian 3 kapal jung musuh berhenti karena terhalang perahu perahu nelayan, tak lama kemudian terlihat cahaya putih terlihat diseberang sungai.
" Itu laser dari Temenggung Sucitro ! Ayo wadyabala serbuuuuu !" Raden Tanduran segera meloncat dengan ilmu meringankan tubuh menerjang kearah kapal jung musuh, serentak pertempuran diatas airpun terjadi dengan dahsyatnya ! Prajurit mongol yang tidak siap menerima serangan mendadak banyak menjadi korban tajamnya pedang dan letusan laser dari pedang prajurit gabungan itu. Raden Tanduran  bertarung dengan gagah berani, Temenggung Sucitro, Senopati Lembu Sora tak kalah trengginasnya membabat musuh, diantara para senopati muda tampil pula Nambi, Ronggolawe dan lain-lain menunjukan keperkasaannya, dalam hitungan menit 3 kapal jung berhasil dibakar  berserta seluruh awaknya tewas. Semuanya hancur terbakar dan tenggelam.
Sementara itu keempat kapal yang ada di belakangnya ikut menyerang dengan tembakan meriamnya namun perlawanan 4 kapal jung Mongolia juga bernasib sama dengan ketiga kapal jung sebelumnya habis terbakar dan semua awak terbunuh. Selanjutnya bregodo Singosari menyerang prajurit Ndandangan dan Mongolia yang menjaga pelabuhan, dalam waktu singkat pelabuhan dapat dikuasai bregodo Singosari yang dipimpin senopati muda Ronggolawe dan Nambi.
Atas kemenangan ini Raden Tanduran sangat bangga karena ternyata mampu berperang juga di Surabaya tempat awalnya timbulnya keberanian menghadapi musuh, lalu Raden Tanduran disebut Raden Wijaya karena kemenangan kemenangan melawan musuh. Sementara itu di Beijing ibukota kekaisaran Mongol yang baru, kaisar Kubhilai Khan tampak gusar karena armada laut yang dikirimnya membantu Ndandangan belum kembali. Setelah mengadakan persiapan maka armada laut yang lebih besar dikirimkan mengarungi samudera menuju Jawa, armada laut ini berjumlah 20.000 orang prajurit dengan puluhan kapal jung tempur yang membawanya, ada tiga jenderal yang memimpin yaitu Ike Mehsi, Kao Sing dan Shi Pi, namun kelemahannya armada laut ini adalah tak satupun dari anggota armada ini yang mengetahui keadaan Nuswantara khususnya pulau Jawa. Inilah yang akan menjadi bencana bagi armada laut Mongolia ketika sampai di pulau Jawa, setelah beberapa lama mengarungi samudera dengan segala kesulitan akhirnya sampailah mereka di perairan Jawa.
Lalu sebagian armada merapat di pelabuhan Tuban untuk mencari keterangan tentang keadaan di Ndandangan, namun sebelum kedatangan armada Mongolia ini beberapa hari yang lalu pelabuhan Tuban ini telah dikuasai pasukan gabungan Magadha, Manduro dan bregodo Singosari dari tangan pasukan Ndandangan. Ketika beberapa kapal jung mongol merapat di dermaga mereka disambut pasukan gabungan tersebut yang mengaku sebagai prajurit Ndandangan, tentu saja armada mongol tak curiga karena memang dalam armada Mongol ini tak satupun yang sudah pernah ke Jawa jadi ini adalah pertama kali mereka masuk ke Tlatah Jawa, oleh pasukan pelabuhan tersebut armada Mongolia diminta meneruskan perjalanan menuju pelabuhan Ujung Galuh untuk menemui Raden Tanduran atau kini lebih sering disebut Raden Wijaya, lalu armada laut Mongolia itu berlayar menyusuri pantai utara Jawa menuju Ujung Galuh . Raden Wijaya, Adipati Cakraninggrat, Temenggung Sucitro, Lembu Sora dan para senopati muda lainnya tampak menyusun rencana untuk memanfaatkan Kedatangan armada Mongol yang benar-benar buta keadaan di Jawa, ini jelas sangat menguntungkan Raden Wijaya untuk menggempur Jayakatwang di Ndandangan karena Jayakatwang akan mengira kedatangan armada kedua Mongolia ini untuk membantunya melabrak tlah Kulon, sehingga pergerakannya takkan dicegah,justru sebaliknya akan disambut gembira. Tepat tengah hari seluruh armada Kitai Nagari ini sampai di pelabuhan Ujung Galuh, Raden Wijaya beserta Temenggung Sucitro, Lembu Sora, Ronggolawe dan Nambi menaiki sekoci.
Merapat ke kapal jung yang ditumpangi ketiga jendral yang memimpin armada mongol yaitu Jenderal Ike Mehsi, Kao Sing dan Shi Pi, dipimpin Jendral Ike Mehsi mereka menyambut kehadiran Raden Wijaya beserta para senapatinya.
" Mari silahkan duduk tuan Wijaya dan tuan-tuan sekalian, mari ..."
" Terimakasih tuan Jenderal Ike Mehsi, Jenderal Shi Pi dan Jenderal Kao Sing, selamat datang di Ujung Galuh tuan-tuan." Raden Wijaya duduk di kursi berhadapan dengan Jenderal Ike Mehsi sementara dua jenderal berdiri demikian pula Temenggung Sucitro dan 2 orang senopati lain," Tuan wijaya kami diutus paduka Maharaja Kubhilai Khan untuk membantu Ndandangan dan mencari tahu kenapa armada kami yang pertama tidak kembali."
" Itulah masalahnya jenderal, Prabu Jaya Kantiwong dari Ndandangan berserta seluruh prajuritnya telah terbunuh termasuk seluruh prajurit Mongolia juga tewas."
" Apa ? ? Siapa yang membunuh semua prajurit mongol tuan Wijaya ??" tanya Jenderal Ike Mehsi dan kedua jenderal itu terkejut.
" Justru itu yang kami akan serang mereka tuan-tuan." Raden Wijaya mulai mengarahkan ketiga jenderal ini pada tipu dayanya .
" Tuan Wijaya siapakah mereka yang mengakibatkan teman-teman kami tewas! Pasti akan kami hancurkan! " Jenderal Kao Shing ikut berbicara dengan gusar.
" Apa benar armada tuan hendak menghancurkan mereka?" Lembu Sora juga menyela, sambil mengerdipkan mata kearah Raden Wijaya yang duduk disamping kirinya.
" Tentu saja tuan, kami akan menuntut balas kematian teman-teman kami !"
" Baiklah kalau begitu tujuan kita sama tuan Ike Mehsi, besok kita bersama-sama menyusuri sungai menuju Jung Biru Ndandangan karena musuh kita ada disana ! "
" Tapi siapakah mereka tuan Wijaya !"
" Ketahuilah tuan Ike Mehsi yang membunuh Jayakatwang adalah ayahnya yaitu Mahaprabu Kertajaya putra dari Mahaprabu Kertanagara yang telah melukai dan memotong utusan raja tuan-tuan, Meng Ki !"
Bukan main marahnya ketiga jenderal Mongolia itu, lalu Jenderal Kao Sing berkata," Jenderal Ike Mehsi dan Jenderal Shi Pi kita harus hancurkan pasukan Mahaprabu Kertajaya !" bukan main gembiranya hati Raden Wijaya dan ketiga senopatinya melihat tipu dayanya berhasil, setelah turun dari kapal jung Mongol ini mereka kembali naik sekoci kembali merapat di dermaga sementara armada Kitai Nagari itu berlabuh di sana namun tetap dalam kapalnya.
Sementara itu di kedaton Ndandangan Prabu Dandang Gendis sedang menerima laporan dari prajurit telik sandinya tentang kedatangan armada Mongolia ke Ndandangan, prabu Ndandang Gendis mengira kedatangan armada Mongolia untuk membantunya meluaskan wilayah hingga Tlatah Kulon karenanya dia tak menghiraukan kekhawatiran pada bawahannya.
" Gusti prabu kita harus tetap waspada dengan setiap gerakan armada dari negeri Mongolia tersebut gusti." pinta Mahapatih Kebo Mundarang kepada rajanya namun Prabu Jayakatwang tidak menanggapi dengan serius.
" Paman Kebo Mundarang, kaisar Kubhilai Khan mengirimkan armadanya yang kedua kali ini juga pasti akan membantu kita meluaskan wilayah ke Kulon yang selama ini terhalang Banjaransari dan kedua putranya, jadi tak perlu khawatir paman."
 " Tetapi gusti prabu tak ada salahnya kita gunakan peralatan pertahanan kita untuk menjaga semua kemungkinan yang ada, karena mungkin saja ada gerakan lain dibelakang armada Mongolia."
Prabu Jayakatwang tersenyum," Sudahlah paman sebaiknya siapkan penyambutan untuk saudara-saudara kita dari Kitai Nagari itu ."
Mahapatih Kebo Mundarang tak bisa berkata lagi terpaksa menuruti keinginan rajanya. Sementara itu pergerakan armada Mongolia telah memasuki Pelabuhan Canggu, menurut kesepakatan antara Raden Wijaya dan 3 jenderal Mongolia pasukan dibagi 2 bagian, pasukan pertama dipimpin Jenderal Ike Mehsi dan Jenderal Kao Sing tetap melanjutkan perjalanan melalui sungai Brantas bersama separuh pasukan dari Jawa yang dipimpin senopati Lembu Sora dan Nambi, pasukan yang kedua melalui darat dipimpin Jenderal Shi Pi sementara Raden Wijaya, Temenggung Sucitro dan Ronggolawe bersama prajurit-prajuritnya menuntun pasukan Mongolia melalui darat.
Selanjutnya kedua pasukan bergerak tanpa hambatan, karena memang pihak Ndandangan mengira kedatangan mereka bukan untuk menyerang sehingga pergerakan sangat lancar. Sementara pasukan darat telah sampai di Wirasaba, Raden Wijaya meminta pasukan berkemah dahulu disana, setelah menyusun rencana tentang strategi penyerangan bersama jenderal mongol yaitu Shi pi, mereka melanjutkan perjalanan menuju kota Ndandangan. Tepat tengah hari kedua pasukan telah mencapai tapas batas kota Ndandangan, armada dipimpin 2 jenderal mongol dan 2 senopati telah bersiap didekat pelabuhan sebelah utara kota, sementara pasukan darat yang dipimpin Raden Wijaya, Jenderal Shi Pi dan 2 senopati juga hampir sampai ditimur kota Ndandangan .
Tak lama kemudian terdengarlah letusan laser yang amat dahsyat mengejutkan seluruh penghuni kota Ndandangan, serentak serangan dimulai ribuan prajurit gabungan Mongolia dan Jawa berhamburan merangsek prajurit-prajurit Ndandangan yang tidak siap, korbanpun berjatuhan. Resi Tunggul Manik tidak menceritakan secara detail peperangan ini, namun secara umum kadipaten Ndandangan dapat direbut dalam waktu setengah hari, Prabu Jayakatwang dan seluruh pembesar kedaton terbunuh, para putri kedaton ditawan termasuk seorang bayi yang masih merah yang merupakan putra Prabu Jayakatwang. Setelah diadakan pembersihan akibat perang tersebut, para tawanan diangkut ke kapal jung Mongolia hendak dibawah pulang namun dicegah Raden Wijaya.
Tentu saja sempat terjadi ketegangan antara Raden Wijaya dan ketiga jenderal Mongol itu ," Tuan wijaya kenapa tuan mencegah kami membawa para putri dan bayi merah ini sebagai tawanan kami ke kapal!"
" Jenderal Ike Mehsi tawanan itu harus ditahan dulu bersama kami!" mendengar ucapan tegas Raden Wijaya membuat Jenderal Koa Shing marah dan mencabut pedangnya dan mengarahkan kearah Raden Wijaya, namun Ronggolawe menghadangnya dengan keris pusakanya sehingga terjadi benturan keras ...taaaang!!! ,pedang milik Jenderal Kao Shing terpental jauh sementara Jenderal Kao Shing mengerang kesakitan memegangi pergelangan tangan kanannya yang seperti terbakar, kedua prajurit kedua belah pihak berhadapan mencabut senjata masing masing namun Jenderal Ike Mehsi mencoba melerai," Cukup ! Kao shing ! Tuan wijaya baiklah urusan tawanan kami serahkan tuan."
" Baiklah tuan Ike Mehsi terimakasih tuan, sebagai perayaan kemenangan kita atas Maharaja Kertajaya nanti malam kita adakan pesta di istana ini tuan."
" Oh bagus bagus tuan Wijaya, ayo-ayo nanti malam kita pesta-pesta !" akhirnya keteganganpun reda antara kedua pasukan, sementara itu Ronggolawe senopati muda itu dipanggil pamannya senopati Lembu Sora untuk menemui Raden Wijaya dipuri dalem keprabon Ndandangan disana tampak Adipati Manduro Cakraningrat atau Arya Wiraraja," Ronggolawe sudahkan engkau siapkan minuman tuak tuban untuk pesta nanti malam?" tanya adipati cakraningrat pada ronggolawe," Sendiko dawuh gusti semua sudah siap." Raden Wijaya tersenyum dan berkata ," Kakang lembu, Ronggolawe ingatlah pasukan kita tak boleh salah minum, biarlah orang orang mongol itu yang mabuk lalu kita habisi semua, mengerti? Biar kakang Nambi yang menjaga pelabuhan dan membereskan pasukan Mongol disana."
" Sendiko dawuh raden,  pasti arak tuban akan membuat prajurit-prajurit Kitai Nagari itu benar-benar mabuk." Setelah memberi penghormatan, ronggolawe senopati yang masih amat muda meninggalkan puri dalem keprabon untuk menyiapkan segala sesuatu yang hendak diperlukan dalam pesta kemenangan nanti malam. Malampun tiba, seluruh anggota prajurit Mongolia diperintah ketiga jenderal mereka untuk naik kedarat untuk berpesta pora, makan minum sepuas-puasnya, menari dan bernyanyi bersama para penari yang disiapkan. Sementara itu prajurit dari Kulon, Manduro dan Singosari berpura-pura ikut mabuk larut dalam pesta tersebut, Jenderal Ike Mehsi, Jenderal Shi Pi dan Jenderal Kao Sing masih duduk duduk minum arak bersama Raden Wijaya yang menemaninya.
Malam kian larut suara hiruk pikuk pesta tersebut mulai berkurang, tampak prajurit-prajurit Wangsa Yuan berjatuhan mabuk berat disana-sini, melihat kondisi yang seperti ini Raden Wijaya melihat kesempatan yang tepat untuk membunuh semua prajurit beserta para jenderalnya telah tiba lalu dengan sebuah isyarat darinya semua prajurit dari Kulon, Manduro dan Singosari yang pura-pura mabukpun bangun menghunus senjata masing-masing dan membunuh semua prajurit Mongol yang telah mabuk berat, tentu saja dengan mudah mereka menghabisi musuh yang sudah tak berdaya itu.
Raden Wijaya mendekati ketiga jenderal yang juga tlah mabuk berat itu," Tuan-tuan sebaiknya beristirahat." selesai berkata Raden Wijaya mencabut kerisnya dan menancapkan ke tubuh Jenderal Shi Pi, dengan erangan yang panjang tubuh Jenderal Shi Pi roboh bermandi darah, Jenderal Kao Shing dan Jenderal Ike Mehsi dengan sisa-sisa kekuatannya bangkit namun kembal!" kurang ajar! Tuan wijaya apa yang kamu lakukan?"
Dengan tubuh terhuyung-huyung kedua jenderal itu mencoba bangkit, namun Raden Wijaya menyerang mereka dengan tendangan  sehingga mereka kembali terjungkal dilantai istana Ndandangan yang kini penuh mayat-mayat prajurit Mongolia yang dibunuh sesudah mabuk. Raden Wijaya mendengar suara bayi yang menangis keras, lalu meninggalkan Jenderal Ike Mehsi dan Jenderal Kao Shing yang masih tergolek lemah menuju kaputren tempat para tawanan ditahan, semakin dekat semakin tak tega hati Raden Wijaya mendengar suara bayi yang semakin keras menangis.
Tak lama kemudian masuklah Raden Wijaya kedalam kaputren, disana semua tahanan masih hidup namun masih terikat tali, disanalah ada seorang abdi dalem perempuan berusia lanjut menggendong bayi yang sedang menangis keras sejak tadi," Mbok emban bayi siapakah yang menangis itu mbok ?" abdi dalem tadi menJawab," Ampuni hamba gusti bayi ini adalah putra dari gusti Prabu Jayakatwang gusti , ampuni dia gusti."
" Mbok emban aku takkan mengganggu bayi tak berdosa ini, malah aku akan mengambilnya sebagai anak angkatku." kata Raden Wijaya sambil meraih bayi merah dari abdi dalem perempuan lanjut usia.
Lalu Raden Wijaya mengendong bayi putra Prabu Jayakatwang dengan penuh kasih sayang, ada perasaan yang aneh dari dalam dirinya ketika memandang wajah bayi berkulit putih itu," Anak ini akan menjadi anak angkatku akan kuasuh layaknya anakku sendiri."
Damarwulan menanyakan kepada Resi Tunggul Manik apakah bayi itu kelak juga menjadi raja," Bapa apakah bayi anak Jayakatwang itu kelak menjadi raja?"
" Bener ngger kelak bayi itu bertahta di Mojopait dengan nama Jayanegara." selanjutnya setelah peristiwa pembantaian terhadap armada Mongolia oleh Raden Wijaya selesai, Jenderal Ike Mehsi dan Jenderal Kao Shing berhasil meloloskan diri dengan sebagian kecil prajurit sampai Ujung Galuh, dari Ujung Galuh mereka kembali ke Mongolia menumpang kapal jung mereka yang tersisa.
Resi Tunggul Manik mengisahkan setelah ditumpasnya armada Mongolia dari kadipaten Ndandangan, Raden Wijaya dengan segala kebanggaan atas keberhasilannya memutuskan untuk menghadap eyangnya Mahaprabu Banjaransari di Karang Kamulyan untuk melaporkan keberhasilan dia dan pasukannya menumpas pemberontakan Jayakatwang dengan menggunakan kekuatan armada Mongolia dan menghabisi armada Mongolia dengan tipu daya.
Perjalananpun dilakukan Raden Wijaya melalui udara untuk mempersingkat waktu tiba di Karang Kamulyan, para putri kedaton Ndandangan yang sempat ditawan Mongolia dibawanya pula menghadap termasuk anak angkatnya yang masih bayi . Setiba dikota Karang Kamulyan Raden Wijaya heran karena semua rakyat yang menjumpainya sepanjang perjalanan menuju kedaton membuang muka seolah olah benci padanya, termasuk kakandanya tercinta Raden Haryo Bangah sangat dingin menyambutnya di kedaton hal ini semakin membuat bingung apa ada yang salah pada dirinya dan rombongan.
Memasuki puri dalem keprabon Karang Kamulyan dengan langkah ragu Raden Wijaya memasuki paseban agung, lalu diduduk bersila diikuti para putri Ndandangan memberi sumpah kepada Mahaprabu Banjaransari dan seluruh sesepuh diantaranya Maharesi Kertajaya, ayahanda Prabu Siung Wanara dan pamanda Prabu Cakradewa. Dalam pisowanan agung itu semua wajah sesepuh bermuram durja, hal ini membuat Raden Wijaya semakin takut dan was was," Ananda Haryo Sedah menghaturkan sembah pangabekti kepada eyang dan sesepuh semua, eyang ananda melaporkan keberhasilan tugas merebut kembali kedaton Ndandangan dari tangan Prabu Jayakatwang ."
Tak ada yang menyambut ucapan Raden Wijaya putra Magadha ini semua diam seribu bahasa, untuk beberapa saat hening mencekam namun Maharesi Kertajaya bersabda," Ananda kami sangat sedih mendengarmu mengalahkan putraku Jayakatwang dengan tipu daya menggunakan prajurit Kitai Nagari membunuh dengan kejam dan licik! Dan lagi engkau dengan sangat tidak ksatria membunuh prajurit musuh yang tak berdaya karena ananda beri minuman keras sehingga mabuk! Ini sungguh pengecut!"
Bagai halilintar menyambar muka Raden Tanduran setelah mendengar sabda Maharesi Kertajaya, wajahnya tertunduk tak berani mengangkat wajahnya.
" Ananda haryo Sedah engkau membunuh musuh yang sudah tidak berdaya ngger! Itu amat memalukanku sebagai ayahandamu! Itu tindakan pengecut ngger!" Prabu Siung Wanara dengan nada marah menunjuk muka putranya. Raden Wijaya benar benar terkena murka dari para sesepuh, akhirnya dengan suara berat Mahaprabu Banjaransari bersabda," Nasi tlah telanjur jadi bubur .... Ananda Haryo Sedah cucuku dan seluruh yang hadir dipisowanan agung ini .... Yang mahakuasa telah memberi karma atau kutukan atas ketidaksatriaan seorang Haryo Sedah dalam melakukan tugasnya ... Ngger kerajaan yang ananda pimpin akan menjadi kerajaan yang Maha Jaya ... Namun akan mengalami kepahitan yang amat lama setelah keruntuhannya kelak ... Semoga raja terakhir dari negeri ini waspada akan datangnya masa hukuman kalabendu.."
Raden Haryo Sedah menangis sesengukan menyesali segala kesalahannya terutama dalam tipu daya menghadapi prajurit Mongolia," Duh eyang ananda benar-benar lalai dan sangat menyesali perbuatan hamba eyang, eyang ampunilah kesalahan hamba eyang ..."
" Sudahlah ananda janganlah engkau meratapi kesalahanmu nasi sudah menjadi bubur ngger, sekarang bangkitlah, bangunlah kedatonmu, makmurkanlah seluruh rakyat, kembalikanlah kejayaan Nuswantara ini, kakandamu Haryo Bangah akan mendampingimu memimpin kerajaan yang baru, jadikanlah dia Mahapatih I Hino." Haryo Bangah menyampaikan kesanggupannya mendampingi adindanya membangun sebuah pusat Nuswantara yang baru yaitu Mojopait.
Lalu Resi Tunggul Manik menutup kisahnya dan berkata dengan serius kepada Damarwulan," Ngger setelah itu mulailah dibangun kedaton Mojopait diawali dengan pembangunan menara Babelan, Damarwulan anakku sengaja Bapa ceritakan semua tentang awalnya kerajaan Mojopait kepadamu karena masa depan Mojopait akan berada ditanganmu ngger dan juga anak cucumu kelak, ingatlah akan masa kelam yang amat panjang kelak ketika Mojopait benar-benar surut ngger ....ingatkanlah pada anak cucumu terutama yang terakhir ..."
" Sendiko dawuh Bapa, saya senantiasa mengingatnya, bahkan akan saya kisahkan kembali pada anak cucu nantinya."